Dalam masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang, peran gender dijalankan melalui sistem komplementer yang membagi tanggung jawab secara jelas antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki umumnya mendominasi ranah publik dan kepemimpinan formal, sementara perempuan memegang peran sentral dalam urusan domestik, spiritual, dan pelestarian tradisi melalui simbolisme kesuburan seperti Dewi Sri. Meskipun perempuan sangat dihormati secara simbolik, kontribusi mereka sering kali bersifat tersembunyi di balik layar, seperti pengelolaan logistik dapur adat dalam upacara besar, yang membuat posisi mereka tampak paradoksal antara pentingnya peran praktis dan terbatasnya pengakuan dalam struktur kepemimpinan adat formal.
Keluarga berperan sebagai fondasi utama dalam transmisi nilai-nilai tersebut, berfungsi sebagai agen sosialisasi primer yang menanamkan kearifan lokal kepada generasi muda melalui metode keterlibatan langsung atau learning by doing. Meski struktur adat ini tampak kaku, dinamika modernitas perlahan membawa pergeseran, salah satunya terlihat dengan munculnya kepala desa perempuan pertama di wilayah tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Kasepuhan Cisungsang memiliki daya lenting budaya yang memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan perubahan zaman dan melakukan negosiasi relasi gender, tanpa harus meninggalkan jati diri budaya yang telah diwariskan turun-temurun.