Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang di Kabupaten Lebak, Banten, merupakan komunitas yang memiliki sistem sosial dan budaya yang kuat dengan menjadikan nilai-nilai leluhur sebagai pedoman hidup di tengah arus modernisasi. Identitas budaya ini dikonstruksi secara aktif melalui berbagai simbol dan praktik tradisional yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu representasi utama dari kearifan lokal mereka adalah pertunjukan seni wayang golek, di mana tokoh Semar menjadi simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kejujuran yang dihormati masyarakat.
Selain seni pertunjukan, konstruksi identitas budaya juga terlihat pada arsitektur rumah adat Imah Gede, yang berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan spiritual, serta penggunaan pakaian adat pangsi dengan warna dominan hitam dan putih yang melambangkan netralitas, kesucian, dan kedekatan dengan alam. Selain itu, kehidupan masyarakat diatur oleh sistem kontrol sosial yang disebut pamali (pantangan), yang tidak sekadar dianggap sebagai larangan mistis, melainkan pedoman etika sehari-hari untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi yang mengancam pelestarian tradisi, masyarakat Cisungsang menunjukkan ketahanan budaya dengan tetap mengintegrasikan nilai-nilai leluhur ke dalam kehidupan modern melalui proses adaptasi yang dinamis tanpa menghilangkan esensi budayanya.