Bagi masyarakat Kasepuhan Cisungsang, padi bukan sekadar sumber pangan, melainkan simbol budaya dan spiritual yang mendalam, karena dipercaya sebagai wujud Dewi Sri atau Nyi Pohaci yang melimpahkan kehidupan, kesuburan, dan keberkahan. Penghormatan terhadap padi ini diwujudkan melalui serangkaian tradisi, ritual, dan pantangan yang ketat yang diwariskan secara turun-temurun, seperti larangan meludah ke arah padi, kewajiban memikul padi hasil panen beramai-ramai dengan iringan musik, hingga peran khusus perempuan dalam proses pengolahan dan penyimpanan padi di lumbung (leuit). Selain itu, terdapat keseimbangan antara kepercayaan adat dan agama, di mana masyarakat tetap menjalankan ibadah dengan taat, sementara penghormatan terhadap padi dilakukan sebagai bentuk mipusti atau memuliakan, bukan menyembah. Praktik-praktik tersebut membentuk identitas budaya yang kuat, mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur, serta menjadi landasan bagi sistem ketahanan pangan masyarakat Cisungsang yang mandiri dan berkelanjutan.