Di Kasepuhan Cisungsang, tokoh adat tertinggi disebut sebagai Abah, yang memegang peran sentral dan multidimensi sebagai pemimpin formal, pengayom spiritual, penjaga tradisi, serta sumber kearifan bagi warganya. Abah tidak dipilih melalui proses pemilihan konvensional, melainkan melalui suksesi turun-temurun berdasarkan garis keturunan laki-laki yang dipadukan dengan proses spiritual yang disebut perwangsitan. Ketaatan masyarakat terhadap setiap keputusan Abah sangat tinggi karena kebijakan yang dibuatnya mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari pembangunan rumah, siklus hidup manusia, pertanian, hingga aktivitas ekonomi. Dalam menjalankan pemerintahannya, Abah dibantu oleh perangkat adat yang disebut baris kolot (dewan tetua penasihat) dan rendangan (perwakilan keluarga).
Selain peran pemimpin, terdapat simbol-simbol adat yang menjadi identitas kuat masyarakat Cisungsang. Pakaian adat berwarna hitam yang dikenakan masyarakat bermakna "hideung" atau "mengerti", yang menyiratkan harapan agar masyarakat memiliki pemahaman mendalam tentang adat dan norma. Ikat kepala batik yang disebut Sabeungkeutan melambangkan pentingnya persatuan pemikiran dan semangat gotong royong. Sementara itu, Abah sebagai pemimpin tertinggi mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna putih yang melambangkan kesucian, ketulusan, serta dedikasi dalam melayani masyarakat. Selain itu, simbol patung macan di gerbang Kasepuhan Cisungsang dimaknai sebagai penjaga hutan, yang menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.